Cikeusik JanganTerlupakan

•February 6, 2014 • Leave a Comment

OPINI | 03 February 2014 | 23:35

Tepat 3 tahun lalu, 6 Februari 2011 peristiwa Cikeusik terjadi. Tiga orang Ahmadi gugur mempersembahkan nyawa mereka demi tegakknya kejayaan Ahmadiyah dan Islam. Merekalah, seperti dijuluki Khalifatul Al-Khamis, “Bintang-Bintang bercahaya di cakrawala Ahmadiyah.” Dari sudut duniawi, kematian seseorang sepertinya merupakan sebuah musibah dan kehilangan yang besar. Musuh-musuh Jema’at Ilahi merasa menang telah membunuh tunas-tunas Jema’at, dan menyangka aktivitas Jema’at akan terhenti dengan hilangnya tunas-tunas ini. Namun, dari sudut pandang ruhani, kematian, apalagi dengan derajat Syahid adalah justru pupuk yang menyuburkan pohon Jema’at Ilahi.

Tengoklah sejarah ! Tidakkah kita belajar dari Sejarah ! “Kataballahu la-aghlibanna ana wa rusuli innallaha qawiyyun ‘aziiz” Allah Ta’ala telah memutuskan; Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Al-Mujadalah, 58:22).

Adakah para Utusan Tuhan dan Jema’atnya mengalami kekalahan? Adakah para Nabi atau Rasul gagal dan kandas mengemban misi-Nya ? Dari rekaman sejarahlah kita tahu, justru merekalah, para penentang Nabi dan Rasul-Nya yang mengalami kepunahan. Sayangnya, manusia tidak pernah memetik hikmah dari sejarah. Seperti ungkap filsuf Jerman, Hegel, “Sejarah menunjukkan kepada kita, bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.”

Seakan mempertegas klaim sejarah, dalam bukunya, Penumpahan Darah Atas Nama Agama, Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Thahir Ahmad r.h. menulis, “Seratus dua puluh empat ribu nabi menjadi saksi bahwa seratus dua puluh empat ribu kali musuh-musuh mereka telah bangkit untuk memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan mereka dengan pedang, tetapi tiap kali pedang itu mengalami kegagalan. Tangan-tangan yang memegang pedang itu menjadi tak berdaya dan pedang-pedang itu sendiri menjadi patah, serta di bawah naungan mereka agama itu terus mekar berkembang dan berbuah tanpa ketakutan.”

Penulis: Ahmad Reza

Sumber: rajapena.org/cikeusik-jangan-terlupa/

Jihad Ahmadiyah

•February 14, 2011 • 1 Comment

Ini adalah sebuah pernyataan pribadi seorang muslim Ahmadiyah terkait tragedi berdarah di Cikeusik pada awal Pebruari yang lalu. Di dalamnya merefleksikan pula pemahaman jihad yang mereka usung, serta pehamaman keislaman secara umum yang sangat menentang radikalisme.


Friday, February 11, 2011
Inilah Jihad Kami

Jika semua yang kami lakukan dalam membela hak kami ini lantas membuat mereka berang, maka kami katakan kami tidak akan mundur. Jika semua yang kami lakukan dalam mempertahankan keyakinan kami membuat mereka beringas, maka kami katakan pada mereka bahwa kami tidak akan takut. Meskipun nyawa taruhannya, kami tidak akan surut.

Inilah perjuangan kami, inilah JIHAD kami.

Yang mulia Rasulullah saw. Mengajarkan kepada kami bahwa mati membela hak dan kebenaran adalah mati syahid yang ganjarannya adalah syurga. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. : Aku pernah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, “Orang yang mati karena mempertahankan harta miliknya adalah syahid” (HR. Bukhari).

Baca selengkapnya >>

Mati Syahid dan Pemahaman Imporan

•November 9, 2009 • 1 Comment

Oleh: A. Mustofa Bisri
http://www.Gusmus.net

Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.

Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang atau peragawati luar negeri.

Baca Selengkapnya >>

Amrozi cs, Mati Syahidkah?

•November 1, 2009 • Leave a Comment

Jihadbukankenistaan.com

Fatwa Alim Besar Kota Madinah, Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry –semoga Allah menjaga beliau-

Soal:

Syaikh yang mulia, beberapa hari yang lalu telah dijalankan hukuman eksekusi terhadap orang-orang yang melakukan peledakan di kota Bali, Indonesia, enam tahun silam. Telah terjadi fitnah setelahnya terhadap banyak manusia, dimana penguburan jenazah mereka dihadiri oleh sejumlah manusia yang sangat banyak. Mereka juga memastikan pelbagai kabar gembira tentang jenazah yang telah dieksekusi tersebut berupa, senyuman di wajah mereka setelah eksekusi, wewangian harum yang tercium dari jenazah mereka, dan selainnya. Mereka mengatakan pula bahwa itu adalah tanda mati syahid, dan perbedaan antara hak dan batil pada hari penguburan jenazah. Apakah ada nasihat bagi kaum muslimin secara umum di negeri kami? wa Jazâkumulâhu Khairan.

Jawab:
Baca Selengkapnya >>

Kita Memang yang Melindungi Noordin M. Top

•October 31, 2009 • Leave a Comment

antimui.wordpress.com

Ratusan massa berkumpul, menyambut dan menjaga ketat pemakaman pelaku pemboman JW Marriot dan Ritz Carlton, Air Setiawan dan Eko Peyang di Dusun Kaliyoso, Karangkung, Kalijambe, Sragen , Jawa Tengah, bak pahlawan pulang dari perang, takbir di pekikkan. Sebuah spanduk hitam menyambut dengan bertuliskan “Selamat datang Pahlawan Islam, Asy-Syahid Air Setiawan, Eko Joko Sarjono. Jihad still continue”.

Inilah gambarannya, dan TV-TV menayangkan semuanya dengan sangat jelas. Apa ini kurang jelas? disatu kita sisi mengecam, disisi lain menyanjung dan mendukung terorist ini. Apa yang kita lakukan terhadap hal semacam ini?terhadap bagian (kelompok) dari kita yang terang-terangan menganggap kelompok terorist ini sebagai pahlawan. kita, dan aprat hanya diam.

Baca Selengkapnya >>

Umat Islam Harus Berhenti dari Teologi Maut

•October 31, 2009 • Leave a Comment

WAWANCARA Ahmad Syafi’i Ma’arif:

AMROZI Cs telah dieksekusi oleh tim regu tembak dari Kejaksaan Agung. Jenazah ketiga pelaku bom Bali I tersebut saat ini sudah siap dimakamkan. Baik keluarga atau pendukungnya mengelu-elukan mereka
sebagai mujahid yang mati dalam keadaan syahid.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Ma’arif menilai, pemahaman tentang jihad selama ini banyak disalahartikan, sehingga sebagian masyarakat muslim melakukan tindakan kekerasan atas nama
jihad.

Namun menurut penerima Magsasay Award 2008 ini, setiap kekerasan yang dilakukan oleh kelompok mana pun di Indonesia akan berakhir dengan kekalahan. Bagaimana meluruskan pemahaman umat yang keliru ini?
Berikut wawancara detikcom dengan Ahmad Syafii Ma’arif.

Baca Selengkapnya >>

Gagalnya ideologi kekerasan dalam Islam

•October 31, 2009 • Leave a Comment

BANYAK kalangan yang khawatir bahwa dieksekusinya Amrozi dkk akan melambungkan status mereka sebagai seorang “syahid” atau martir di mata umat Islam. Beberapa kalangan was-was jika mereka dihukum mati, alih-alih akan memotong akar-akar ideologi kekerasan, hukuman itu justru akan membuat ideologi mereka menjadi menarik di mata umat Islam, terutama di kalangan anak-anak muda.

Menurut saya, kekhawatiran semacam ini sama sekali tak beralasan. Untuk sementara, mungkin saja kematian Amrozi dkk akan menaikkan emosi umat Islam, terutama kalangan yang sejak dari awal memiliki simpat pada ideologi para pelaku pengeboman di Bali itu, meskipun tak serta merta mesti setuju dengan tindakan mereka. Tetapi, lambat-laun, Amrozi dkk akan hilang dari memori umat Islam. Dalam beberapa tahun saja, nama Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron akan segera dilupakan oleh umat Islam.

Salah satu perkembangan menarik setelah peristiwa 9/11 adalah bahwa hampir terjadi penolakan serentak di semua kalangan umat Islam, terutama kalangan yang moderat yang merupakan mayoritas dalam umat Islam, terhadap ideologi Al-Qaidah. Meskipun kita menjumpai simpati terhadap figur Osama bin Ladin di sebagian kalangan Islam, tetapi secara umum kita melihat suatu penolakan yang nyaris kompak terhadap tindakan Osama itu. Ratusan ulama dari berbagai sudut dunia Islam mengeluarkan fatwa yang dengan serentak menolak dan mengutuk tindakan para pelaku terorisme yang memakai nama Islam. Di mana-mana, kita mendengar suatu penegasan yang nyaris kategoris bahwa Islam adalah anti tindakan teoriristik, apalagi jika membawa korban masarakat sipil yang sama sekali tak berdosa (al-abriya’).

Continue reading ‘Gagalnya ideologi kekerasan dalam Islam’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.