Menolak Ide Khilafah Hizbut Tahrir

•May 28, 2017 • Leave a Comment

Artikel dibawah ini merupakan tulisan dari Prof. Mahfud MD yang dimuat dalam rubrik “opini” harian kompas, 26 Mei 2017 halaman 6. 

Silahkan menikmati… 

————————————————


MENOLAK IDE KHILAFAH
Moh Mahfud MD
Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.
Saat itu, teman saya, Prof Zainuri yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam forum tersebut dan saya diminta berbicara seputar ”Konstitusi bagi Umat Islam Indonesia”.
Pada saat itu saya mengatakan, umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.
Saya mengatakan pula, di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.
SISTEM NEGARA PANCASILA

Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku.
Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai mietsaaqon ghaliedzaa atau kesepakatan luhur bangsa.
Penjelasan saya yang seperti itulah yang memicu pernyataan aktivis ormas Islam dari Blitar itu dengan meminta saya untuk bertanggung jawab dan membuktikan bahwa di dalam sumber primer Islam tidak ada sistem politik dan ketatanegaraan. Atas pernyataannya itu, saya mengajukan pernyataan balik. Saya tak perlu membuktikan apa-apa bahwa sistem pemerintahan Islam seperti khilafah itu tidak ada yang baku karena memang tidak ada.
Justru yang harus membuktikan adalah orang yang mengatakan, ada sistem ketatanegaraan atau sistem politik yang baku dalam Islam. ”Kalau Saudara mengatakan bahwa ada sistem baku di dalam Islam, coba sekarang Saudara buktikan, bagaimana sistemnya dan di mana itu adanya,” kata saya.
Ternyata dia tidak bisa menunjuk bagaimana sistem khilafah yang baku itu. Kepadanya saya tegaskan lagi, tidak ada dalam sumber primer Islam sistem yang baku. Semua terserah pada umatnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman.
Buktinya, di dunia Islam sendiri sistem pemerintahannya berbeda-beda. Ada yang memakai sistem mamlakah (kerajaan), ada yang memakai sistem emirat (keamiran), ada yang memakai sistem sulthaniyyah (kesultanan), ada yang memakai jumhuriyyah (republik), dan sebagainya.
Bahwa di kalangan kaum Muslimin sendiri implementasi sistem pemerintahan itu berbeda-beda sudahlah menjadi bukti nyata bahwa di dalam Islam tidak ada ajaran baku tentang khilafah. Istilah fikihnya, sudah ada ijma’ sukuti (persetujuan tanpa diumumkan) di kalangan para ulama bahwa sistem pemerintahan itu bisa dibuat sendiri-sendiri asal sesuai dengan maksud syar’i (maqaashid al sya’iy).
Kalaulah yang dimaksud sistem khilafah itu adalah sistem kekhalifahan yang banyak tumbuh setelah Nabi wafat, maka itu pun tidak ada sistemnya yang baku.
Di antara empat khalifah rasyidah atau Khulafa’ al-Rasyidin saja sistemnya juga berbeda-beda. Tampilnya Abu Bakar sebagai khalifah memakai cara pemilihan, Umar ibn Khaththab ditunjuk oleh Abu Bakar, Utsman ibn Affan dipilih oleh formatur beranggotakan enam orang yang dibentuk oleh Umar.
Begitu juga Ali ibn Abi Thalib yang keterpilihannya disusul dengan perpecahan yang melahirkan khilafah Bani Umayyah. Setelah Bani Umayyah lahir pula khilafah Bani Abbasiyah, khilafah Turki Utsmany (Ottoman) dan lain-lain yang juga berbeda-beda.
Yang mana sistem khilafah yang baku? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah produk ijtihad yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Ini berbeda dengan sistem negara Pancasila yang sudah baku sampai pada pelembagaannya. Ia merupakan produk ijtihad yang dibangun berdasar realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, sama dengan ketika Nabi membangun Negara Madinah.
BERBAHAYA

Para pendukung sistem khilafah sering mengatakan, sistem negara Pancasila telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan. Kalau itu masalahnya, maka dari sejarah khilafah yang panjang dan beragam (sehingga tak jelas yang mana yang benar) itu banyak juga yang gagal dan malah kejam dan sewenang-wenang terhadap warganya sendiri.
Semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang.  Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, kan, soal implementasi saja. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengimplementasikannya
Maaf, sejak Konferensi Internasional Hizbut Tahrir tanggal 12 Agustus 2007 di Jakarta yang menyatakan ”demokrasi haram” dan Hizbut Tahrir akan memperjuangkan berdirinya negara khilafah transnasional dari Asia Tenggara sampai Australia, saya mengatakan bahwa gerakan itu berbahaya bagi Indonesia. Kalau ide itu, misalnya, diterus-teruskan, yang terancam perpecahan bukan hanya bangsa Indonesia, melainkan juga di internal umat Islam sendiri.
Mengapa? Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasar Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya.
Oleh karena itu, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Ini yang harus diperkokoh sebagai  mietsaaqon ghaliedzaa (kesepakatan luhur) seluruh bangsa Indonesia. Para ulama dan intelektual Muslim Indonesia sudah lama menyimpulkan demikian.
MOH MAHFUD MD

Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013.

________
AYO, VIRALKAN TULISAN INI KE MANA-MANA DEMI MENYAMAKAN PEMAHAMAN AKAN NASIONALISME DAN MELESTARIKAN KEUTUHAN NKRI DALAM MEMPERTAHANKAN EMPAT PILAR KEBANGSAAN—PANCASILA, UUD 1945, BHINNEKA TUNGGAL IKA, DAN NKRI.
#pancasila

#uud45

#bhinnekatunggalika

#nkri

#seruanmerahputih

#nkrihargamati

​Khawarij Itu ISIS

•October 9, 2016 • Leave a Comment


Tubuh Abdullah bin Khabab, sahabat Nabi itu diseret kemudian disiksa hingga tewas. Belum puas, Hubla istri Abdullah mengalami nasib lebih tragis. Perutnya dibelah dan isinya dikeluarkan. 

Keluarganya dari anak anak hingga orang tua juga di bantai tidak tersisa.Begitulah cerita yang saya kutip dari Dr. Mustafa Murad, guru besar ahlussunah universitas Al-Azhar. Pelaku sadis tersebut adalah Khawarij, kaum pembangkang dijaman pemerintahan Imam Ali, sepupu dan sahabat Nabi Muhammad. 

Peristiwa memilukan itu lalu menjadi alasan sahih bagi Imam Ali untuk memulai operasi militer menumpas Khawarij.Sesaat sebelum perang melawan pembangkang khawarij di Nahrawan meletus, Imam Ali mengutus sahabat besar Nabi Muhammad, Abdullah bin Abbas untuk berdialog dan menyelidiki keadaan mereka.  

Mari kita dengarkan penjelasan Abdullah bin Abbas tentang ciri-ciri Khawarij, “Mereka adalah kaum yang menakjubkan dalam hal ibadah. Tampak bekas-bekas sujud di dahi mereka. Siang hari mereka berpuasa dan malam hari diisi dengan tahajjud dan membaca al-Quran. Mereka adalah qori dan kaum penghafal al-Quran. Tubuh mereka kurus dan pucat karena banyak berpuasa. Pakaian mereka tampak kasar dan menjauhi dunia. 

Mungkinkah mereka tersesat?”Ketika mendengar penjelasan ibnu Abbas, sambil memandang kejauhan, Imam Ali menjawab : “Wahai Ibnu Abbas, seandainya tidak ada aku (setelah Rasulullah), maka tidak ada seorangpun yang sanggup dan yakin melawan mereka. Tapi cukuplah sebagai bukti kebenaranku, bahwa esok setelah peperangan, tidak lebih 10 orang dari mereka yang masih hidup, dan tidak lebih dari 10 orang pasukanku yang binasa.”Ucapan Imam Ali terbukti. 
Setelah perang, hanya 7 orang pasukan Ali yang binasa dan hanya 9 orang pasukan Khawarijyang hidup.Jauh sebelum Perang Nahwaran terjadi, Rasulullah Saw sudah meramalkan kedatangan mereka. Dahulu, di jaman Nabi di Madinah, ada seorang yang jika sholat, dia sudah datang sebelum sahabat nabi datang. Dan masih sholat, saat sahabat Nabi pulang.Kagum atas ibadah orang ini, sahabat Nabi menceritakan kepada Nabi. 

Ketika Nabi melihatnya, Nabi berkata, “Aku seperti melihat bekas tamparan setan diwajahnya.”Lalu Nabi mendatangi orang tersebut dan bertanya,”Apakah waktu kamu sholat, kamu merasa tidak ada yang lebih baik dari dirimu?”“Benar, “ jawab orang tersebut, sambil masuk ke mesjid.
Nabi Muhammad lalu berkata kepada sahabatnya,”Kelak akan muncul kaum dari keturunan orang tersebut. Bacaan al-Quran kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan sholat kamu tidak ada nilainya dibandingkan sholat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka.
Mereka membaca al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya al-Quran itu milik mereka saja, padahal sebenarnya al-Quran itu akan melaknat mereka. 

Umatku akan menderita di tangan mereka. Merekalah seburuk-buruknya manusia. Jika aku hidup saat itu, aku akan bangkit melawan mereka. (Shahih Bukhari Muslim).
 
Jadi, manusia paling buruk dimuka bumi, menurut Nabi Muhammad, ternyata bukanlah kaum pagan, atau kaum musyrik, atau kaum penyembah berhala atau ateis. Ternyata manusia yang paling buruk menurut Nabi, adalah mereka yang justru menjadi ahli ibadah, ahli sujud, ahli al-Quran dan ahli puasa tetapi merasa paling baik dan merasa paling menjalankan syariah Islam. 
Mereka menganggap sholat kita tidak sebanding dengan sholat mereka,puasa kita dipandang tidak ada apa-apanya dibandingkan puasa mereka tetapi saat bersamaan mereka mengkafirkan siapapun yang tidak sependapat dengan mereka. Selain itu, mereka berani menumpahkan darah siapapun yang beroposisi dengan mereka.

Maka jika Anda melihat orang besorban dan berjidat hitam karena banyak sujud, maka Anda jangan kagum terlebih dahulu. Perhatikan, apakah dia mudah mengkafirkan orang lain atau merasa kelompoknya yg paling baik? 
Jika jawabannya iya, bisa jadi orang tersebut sudah terjangkit virus Khawarij. Mereka adalah manusia yang paling buruk.Kaum yang merasa paling suci dan paling baik inilah yang diperangi Imam Ali di Nahrawan.Mereka memang ditumpas habis oleh Imam Ali, tapi embrio Khawarij abadi.1400 tahun setelah tertumpasnya Khawarij di Nahwaran, kaum yang paling merasa suci sehingga merasa memiliki hak untuk membunuh siapapun ini, muncul tepat dijantung Timur Tengah. 
Mereka muncul dalam bentuknya yang paling bengis. ISIS.Daulah Islam Iraq dan Suriah, lahir dari rahim al-Qaeda, dan kini organisasi teroris ini meluluh lantakkan Suriah dan Irak. 
Mereka menggunakan nama Islam hanya untuk membohongi manusia.

Suriah yang awalnya damai, negeri yang indah yang dihuni berbagai agama, negeri harmonis dimana Anda dapat menyaksikan Muslim Sunni duduk bersama Muslim Syiah, seorang Muslim bahu membahu dengan Kristen, sebuah masjid berdampingan gereja, kini luluh lantak diterjang kekerasan memilukan.ISIS hampir melakukan semua kejahatan dan kebengisan yang hanya ada di abad-abad pertengahan.
 Mereka bukan hanya membunuh tawanan yang sudah menyerah bahkan mengeksekusi-nya di depan wanita dan anak-anak. Mereka juga menyembelih, menyiksa dan memutilasi mayat, menyalib pendeta dan para ulama, merusak masjid dan gereja.
Para korban bukan hanya kombatan, bahkan orang tua berusia lebih dari 100 tahun, wanita dan anak-anak juga menjadi target mereka. Perbuatan bengis ini melanggar prinsip-prinsip Islam yang palingdasar. Mereka berniat mendirikan Negara Islam justru dengan melanggar syariat Islam.

Membunuh orang tua, wanita dan anak-anak, merusak masjid dan gereja — dilarang keras dalam Islam. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun.Tidak heran jika Syaikh Ali Jumuah, ulama besar al-Azhar berkata: “Takfiri (kaum yang suka mengkafirkan) adalah musuh kemanusiaan. 

Perang berkepanjangan di Afghanistan seharusnya menjadi pelajaran. Takfiri Wahabi melakukan kerusakan di desa, kota dan lingkungan sekitarnya. Hal yang bahkan tidak dilakukan Uni Soviet sekalipun. Dimana Afghanistan sekarang? Berikan satu hari saja dimana tidak terjadi pembunuhan di Afghanistan karena ulah Takfiri.”

Maret 2014, Indonesia tiba-tiba dikejutkan oleh demonstrasi pendukung ISIS di Monas. Ratusan orang berdemontrasi membaiat ISIS sambil mengutuk demokrasi. Jumlah mereka kecil tapi teriakan mereka keras. Jika mereka diberangus, mereka teriak-teriak HAM. Dengan membaiat ISIS, sama artinya mereka tidak mengakui Pancasila dan NKRI.

 Bahkan baru-baru ini mereka membuat onar di Solo. Sambil mengusung bendera hitam al-Qaeda, mereka mengobrak abrik pertunjukkan musik.Apakah pemerintah harus menunggu ISIS membesar untuk menyadari kebengisan mereka? Jika ya, maka akan tiba saatnya ketika kebiadaban itu hadir di depan pintu rumah kita, Naudzu billah min dzalik. 

Note: Artikel diatas diambil dari broadcast group whatsapp dengan penulisan anonim. Dengan tanpa mengurangi rasa terimakasih kami kepada penulis asli, kami posting disini tanpa nama penulis. 

Cikeusik JanganTerlupakan

•February 6, 2014 • Leave a Comment

OPINI | 03 February 2014 | 23:35

Tepat 3 tahun lalu, 6 Februari 2011 peristiwa Cikeusik terjadi. Tiga orang Ahmadi gugur mempersembahkan nyawa mereka demi tegakknya kejayaan Ahmadiyah dan Islam. Merekalah, seperti dijuluki Khalifatul Al-Khamis, “Bintang-Bintang bercahaya di cakrawala Ahmadiyah.” Dari sudut duniawi, kematian seseorang sepertinya merupakan sebuah musibah dan kehilangan yang besar. Musuh-musuh Jema’at Ilahi merasa menang telah membunuh tunas-tunas Jema’at, dan menyangka aktivitas Jema’at akan terhenti dengan hilangnya tunas-tunas ini. Namun, dari sudut pandang ruhani, kematian, apalagi dengan derajat Syahid adalah justru pupuk yang menyuburkan pohon Jema’at Ilahi.

Tengoklah sejarah ! Tidakkah kita belajar dari Sejarah ! “Kataballahu la-aghlibanna ana wa rusuli innallaha qawiyyun ‘aziiz” Allah Ta’ala telah memutuskan; Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Al-Mujadalah, 58:22).

Adakah para Utusan Tuhan dan Jema’atnya mengalami kekalahan? Adakah para Nabi atau Rasul gagal dan kandas mengemban misi-Nya ? Dari rekaman sejarahlah kita tahu, justru merekalah, para penentang Nabi dan Rasul-Nya yang mengalami kepunahan. Sayangnya, manusia tidak pernah memetik hikmah dari sejarah. Seperti ungkap filsuf Jerman, Hegel, “Sejarah menunjukkan kepada kita, bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.”

Seakan mempertegas klaim sejarah, dalam bukunya, Penumpahan Darah Atas Nama Agama, Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Thahir Ahmad r.h. menulis, “Seratus dua puluh empat ribu nabi menjadi saksi bahwa seratus dua puluh empat ribu kali musuh-musuh mereka telah bangkit untuk memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan mereka dengan pedang, tetapi tiap kali pedang itu mengalami kegagalan. Tangan-tangan yang memegang pedang itu menjadi tak berdaya dan pedang-pedang itu sendiri menjadi patah, serta di bawah naungan mereka agama itu terus mekar berkembang dan berbuah tanpa ketakutan.”

Penulis: Ahmad Reza

Sumber: rajapena.org/cikeusik-jangan-terlupa/

Jihad Ahmadiyah

•February 14, 2011 • 1 Comment

Friday, February 11, 2011
Inilah Jihad Kami

Jika semua yang kami lakukan dalam membela hak kami ini lantas membuat mereka berang, maka kami katakan kami tidak akan mundur. Jika semua yang kami lakukan dalam mempertahankan keyakinan kami membuat mereka beringas, maka kami katakan pada mereka bahwa kami tidak akan takut. Meskipun nyawa taruhannya, kami tidak akan surut.

Inilah perjuangan kami, inilah JIHAD kami.

Yang mulia Rasulullah saw. Mengajarkan kepada kami bahwa mati membela hak dan kebenaran adalah mati syahid yang ganjarannya adalah syurga. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. : Aku pernah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, “Orang yang mati karena mempertahankan harta miliknya adalah syahid” (HR. Bukhari).

Continue reading ‘Jihad Ahmadiyah’

Mati Syahid dan Pemahaman Imporan

•November 9, 2009 • 1 Comment

Oleh: A. Mustofa Bisri
http://www.Gusmus.net

Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.

Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang atau peragawati luar negeri.

Baca Selengkapnya >>

Amrozi cs, Mati Syahidkah?

•November 1, 2009 • Leave a Comment

Jihadbukankenistaan.com

Fatwa Alim Besar Kota Madinah, Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry –semoga Allah menjaga beliau-

Soal:

Syaikh yang mulia, beberapa hari yang lalu telah dijalankan hukuman eksekusi terhadap orang-orang yang melakukan peledakan di kota Bali, Indonesia, enam tahun silam. Telah terjadi fitnah setelahnya terhadap banyak manusia, dimana penguburan jenazah mereka dihadiri oleh sejumlah manusia yang sangat banyak. Mereka juga memastikan pelbagai kabar gembira tentang jenazah yang telah dieksekusi tersebut berupa, senyuman di wajah mereka setelah eksekusi, wewangian harum yang tercium dari jenazah mereka, dan selainnya. Mereka mengatakan pula bahwa itu adalah tanda mati syahid, dan perbedaan antara hak dan batil pada hari penguburan jenazah. Apakah ada nasihat bagi kaum muslimin secara umum di negeri kami? wa Jazâkumulâhu Khairan.

Jawab:
Baca Selengkapnya >>

Kita Memang yang Melindungi Noordin M. Top

•October 31, 2009 • Leave a Comment

antimui.wordpress.com

Ratusan massa berkumpul, menyambut dan menjaga ketat pemakaman pelaku pemboman JW Marriot dan Ritz Carlton, Air Setiawan dan Eko Peyang di Dusun Kaliyoso, Karangkung, Kalijambe, Sragen , Jawa Tengah, bak pahlawan pulang dari perang, takbir di pekikkan. Sebuah spanduk hitam menyambut dengan bertuliskan “Selamat datang Pahlawan Islam, Asy-Syahid Air Setiawan, Eko Joko Sarjono. Jihad still continue”.

Inilah gambarannya, dan TV-TV menayangkan semuanya dengan sangat jelas. Apa ini kurang jelas? disatu kita sisi mengecam, disisi lain menyanjung dan mendukung terorist ini. Apa yang kita lakukan terhadap hal semacam ini?terhadap bagian (kelompok) dari kita yang terang-terangan menganggap kelompok terorist ini sebagai pahlawan. kita, dan aprat hanya diam.

Baca Selengkapnya >>